Antibiotik Riwayatmu Kini
>> Kamis, 2009 Februari 26
Hampir tujuh puluh persen bakteri yang mematikan sudah kebal dengan salah satu antibiotik. So, please appropriate use of antibiotics- start at the right time and stop at the right time.
Baca tulisan bagus tentang antibiotik. ditulis oleh Wendy Jung, PharmD di Pharmacy Times dengan judul : "Avoiding Antimicrobial Misuse: Delaying Postantibiotic Era" Edisi Bulan Februari 2009. Begini kira-kira terjemahan bebasnya :)
Waktu Alexander Fleming menemukan penicillin di awal tahun 1940an, isu tentang kebal antibiotik mungkin ngga akan terdengar begitu lantang seperti di zaman ini. Kita sekarang khawatir dengan masuknya era postantibiotik dimana sekarang didapati hampir 70% bakteri penyebab infeksi yang mematikan telah menjadi kebal sekurangnya pada satu antibiotik. biaya sosial akibat komplikasi terhadap resistensi obat ini menelan biaya hampir $5milyar seperti yang diperkirakan oleh the Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Sampai akhir dekade ini, resistensi bakteri terhadap antimikroba hanya menuntun pada penelitian dan pengembangan obat baru (novel drugs) untuk mengkounter beberapa resistensi. Laporan di tahun 2004 oleh Infectious Diseases Society of America (IDSA), Bad bugs, No Drugs, menyoroti fakta bahwa antibiotik yang dulu begitu gemilang kini telah meredup. Selama 11 tahun terakhir ini baru ada 3 obat terbaru., itupun hanya satu diantaranya yang memiliki aktivitas melawan kuman gram negatif , padahal kebutuhan terbesar yang diperlukan adalah obat jenis ini.Lebih menyedihkannya lagi adalah bahwa saat masyarakat percaya bahwa kepedulian akan kesehatan (health care) dan industri farmasi adalah hak dasar setiap manusia,dan memang begitu, tapi ujung-ujungnya tetap ia adalah bisnis.
Dari segi investasi, antibiotik termasuk obat yang rendah dalam hal pengembalian modal. Antibiotik biasanya diresepkan untuk 3-14 hari untuk kebanyakan jenis infeksi, 6 minggu untuk infeksi yang parah seperti endocarditis dan osteomyelitis, dan jarang yang lebih lama dari itu. Tambahan lagi, trend yang berkembang dalam lamanya pemberian obat adalah memendekkan waktu terapi sesebentar mungkin untuk melawan meningkatnya isu resistensi. Dengan banyaknya hal yang perlu dilakukan untuk penelitian dan pengembangan obat baru, lebih banyak perusahaan obat yang memilih mengembangkan obat-obat penyakit kronis, karena obat tersebut lebih menjanjikan dalam hal pengembalian modal.
Di sudut lain, bakteri telah berkembang dengan cepat dalam meng-kebal-kan dirinya dengan obat-obat. Di awal 80-an, antibiotik beta laktamase spektrum luas diidentifikasi-kebanyakan-resisten kecuali karbapenem. Di akhir 80-an, ampicilin masih kelasnya beta laktam juga dinyatakan resisten kecuali carbapenems. Di awal abad ini, telah terjadi epidemi yang diidentifikasi sebagai Klebsiella pneumoniae Carbapenemase (KPC) class yang menyebar melalui kota New York dan sekitarnya. KPCs ini dikumpulkan resisten tidak hanya semua klas beta laktam, termasuk carbapenems, juga menunjukkan kekebalannya pada banyak klas antibiotik termasuk fluorokuinolones, aminoglikosida, tetrasiklin, dll. Sebagai hasilnya, rumah sakit di sejumlah negara berperang dengan kuman-kuman yang multidrug resisten, di lain pihak mekanisme resistensi jenis baru, seperti CTX-M, diketahui berkembang lebih cepat dibanding senyawa baru yang dikembangkan untuk menghadapinya.
Kesenjangan timbul saat generasi antibiotik dalam hal antimikroba yang baru melawan pertumbuhan resistensi, strategi berbeda terus dikembangkan sebagai percobaan untuk mengatasi masalah resistensi-strategi yang sebagian besar gagal sampai sejauh ini.
Salah satu metode popular adalah untuk "double cover" kuman yang sangat resisten, walaupun sensibilitasnya udah diketahui. Sayangnya, sedikit sekali, jika ada, data yang menunjukkan hasil yang menguntungkan dari metode ini. Baik kuman yang atau akan berkembang menjadi resisten pada satu atau lebih senyawa yang digunakan atau senyawa yang akan digunakan pada jenis yang lain. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa semakin besar penggunaan antibiotik maka makin besar pula kemungkinan timbulnya resistensi baru.
Percobaan lainnya yang belum berhasil adalah siklus antibiotik. Yaitu ketika satu antibiotik dipilih sebagai antibiotik pilihan atau "workhorse"antibiotic untuk infeksi tertentu sampai pengaruh senyawa tersebut menurun. Senyawa lainnya lalu dipilih sebagai senyawa baru pilihan untuk memberi kesempatan senyawa "workhorse" tadi pulih/recover. Rice et al bercanda,dengan akurat, bahwa pengaturan hal ini "seperti menawarkan kepada alkoholic untuk memilih /berotasi memilih bir, lalu wine, gin dan whiskey sebagai strategi untuk mencegah penyakit liver"
strategies for Clinicians
Strategi yang paling efektif untuk memerangi munculnya bakteri resisten adalah dengan mempromosikan penggunaan antibiotik yang sesuai- digunakan pada saat yang tepat dan berhenti saat yang tepat pula. Perkembangan resistensi tergantung pada ketidaksesuaian dosis obat, lamanya waktu pemakaian, dan ketidaksesuain dalam hal penggunaan antibiotik yang berlebihan, dan ketidaksesuain pemilihan antibiotik yang digunakan. mengawali dengan penggunaan dosis antibiotik yang sesuai pada saat yang tepat adalah sangat penting dalam penanganan pasien dengan infeksi yang nyata dan mencegah penggunaan yang berlebihan pada pasien yang tidak membutuhkan antibiotik.Walaupun data menunjukkan pengurangan angka kematian ketika antibiotik digunakan sebagai bentuk terapi pada pasien yang parah dan infeksi bakteri yang banyak terjadi, sepatutnya antibiotik seharusnya tidak diberikan ketika didapati tidak cukup bukti ada infeksi bakteri. Dari sisi pasien, sekurangnya 55% dari semua antibiotik diresepkan untuk akut respiratory tract infeksi yang mana tidak perlu diberikan dengan dasar bahwa infeksi ini disebabkan virus. Persentase yang besar ini diperoleh dari penelitian Dagan et al, yang mendemontrasikan penurunan angka resistensi berrsama dengan penurunan penggunaan antibiotik yang tak sesuai yang digunakan pada anak yang menderita otitis media akut. Belakangan ini, The CDC terlibat dalam mempromosikan peresepan antibiotik yang sesuai melaui Get Smart Campaign. Program ini mempromosikan penerapan yang sesuai, penurunan permintaan antibiotik oleh masyarakat umum dan penggunaan yang sesuai dan durasi terapi antibiotik yang tepat.
Tidak kontinyu menggunakan antibiotik di akhir pengobatan adalah hal kedua yang perlu dibenahi. dan mungkin hal yang paling sulit dikenalkan walaupun ia sungguh efektif. Karena tidak cukup data yang menunjang lamanya waktu pemakaian pada pengobatan atau juga banyaknya data yang menunjang pemendekkan lamanya penggunaan antibiotik pada pengobatan, membuat para praktisi seringkali terjebak antara kekhwatiran undertreating pasien dan kekhawatiran timbulnya resistensi bakteri saat mereka harus overtreating pasien.Penurunan penggunaan antibiotik bisa dengan terapi empirik antibiotik spektrum pendek saat identifikasi bakteri diketahui sebagai salah satu cara praktis untuk tidak meneruskan penggunaaan antibiotik spektrum luas yang tidak sesuai. Hal lainnya yang ditekankan oleh IDSA adalah untuk tetap konsisten. Menentukan treatment yang sesuai akan menjadi pekerjaan mnentukan dalam mengetahui periode yang tepat untuk mengakhiri pengobatan dan periode peningkatan selektifitas dalam memilih antimikroba baru saja dimulai. Untuk melengkapi isu ini, tretament tambahan mungkin diperlukan untuk beberapa penyakit yang berbeda antar pasien yang immunocompetent dan meraka yang imunocompromised sepeti pasien dengan neutropenic. Lebih jelasnya lagi, lebih banyak penelitian dari beragam prospektif masih terus diperlukan .
